Jumat, 27 Mei 2011

RINDU



Begitu gelap walau senja baru saja turun
buasnya nyamuk tak mengacaukan lelehan jiwa
engkau datang menyerangku dengan seribu pengalaman ada
terbenam aku dalam pusaran waktu lampaumu
menjepit mati semua ingin yang  lain
andai ragamu dapat kuhadirkan lewat kenangan
sejak tadi, mentari belum pergi sudah kau ada bersamaku
malam mulai merayap dalam
menemani ingatan akan dirimu yang kian berakar dalam 

Rabu, 25 Mei 2011

Small is Beautiful

Miswa jatuh cinta kepada seorang pemuda teman sekampusnya. Perasaan itu membuat Miswa gelisah berbulan-bulan. Penderitaan itu akhirnya memuncak. Miswa tak tahan lagi dan memutuskan untuk mengungkap isi hatinya secara langsung.
Pagi itu, Miswa mendekati sang pangeran, memandang wajahnya dan terdiam. Tiba-tiba Miswa menangis dan lari menjauhi sang pemuda tanpa sempat mengatakan apa-apa. 
Ketika ditanya, Miswa mengaku melihat sehelai bulu hidung keluar dari lubang hidung sang pemuda. 

Persahabatan Manusia dan Hewan

            Saat jalan pagi tadi bersama isteri, kami berpapasan dengan seorang anak yang juga jalan pagi bersama anjing peliharaannya yang besar, gagah dan berbulu lebat terawat. Dari tampilannya, anjing itu dipastikan bukan anjing lokal. Dari penampilan sang anak, saya juga dapat memastikan anak tersebut bukan dari keluarga rata-rata; keluarga berada. Sang bocah sangat akrab dengan hewan peliharaannya.
            Lalu tiba-tiba pikiran saya mengembara dan terperangkap dalam sebuah bayangan realitas yang makin menjamur di masyarakat. Persahabatan antara manusia dengan hewan.  Persahabatan manusia dengan hewan bukan lagu baru, sudah sejak dahulu manusia menjalin hubungan “mesra” dengan sesama makhluk “berotak” ini. Sampai-sampai banyak dongeng anak yang tercipta untuk menggambarkan “kemesraan” lintas kodrat ini.
            Tidak ada yang salah dengan persahabatan manusia hewan. Refleksi positif dari model persahabatan macam ini adalah manusia tidak mengangkat dirinya lebih tinggi dari makhluk lain di dunia. Persahabatan ini menggambarkan manusia menetapkan dirinya setara dengan hewan. Pemikiran akan kesetaraan ini membuat manusia tidak bertindak arogan terhadap kehidupan lain di luar dirinya. Kehidupan lain terlestarikan akibat pola pikir ini sebab manusia menjaganya. 
            Namun cerita persahabatan manusia hewan dulu dan sekarang berbeda. Dahulu, pertemuan manusia dengan hewan berjalan alami. Persahabatan tumbuh dalam pertemuan di lingkungan alami. Tidak ada paksaan. Dengan pola semacam ini, hampir semua hewan dipastikan memiliki peluang bersahabat dengan manusia. Demikian juga manusia, siapa saja tiba-tiba tanpa disadari sudah masuk dalam hubungan “mesra” tanpa diketahui bagaimana dan kapan hal itu terbangun. Dalam hubungan semacam ini, manusia tidak memiliki pemikiran muluk-muluk tentang hubungan mereka tetapi yang jelas mereka berdua sangat intens dalam suasana kebebasan dan saling menghormati. Semua berjalan apa adanya, wajar. Hal inilah yang menjadikan persahabatan mereka abadi. Banyak kisah yang membuktikan hal ini. Contoh, kisah fenomenal anjing Hichiko di Jepang.
            Berbeda dengan apa yang kelihatan sekarang. Persahabatan yang terbangun berjalan artifisial di lingkungan sempit manusia. Manusia secara aktif mencari “teman” yang layak mendampinginya di kamar tidur, ruang makan dan yang paling luas di taman-taman. Walau berteman, manusia lebih mendominasi hubungan tersebut. Manusia yang menciptakan aturan. Lihat saja, hewan-hewan peliharaan yang dianggap sahabat oleh sang pemilik selalu diberi tali, diberi pakaian dan lain sebagainnya. Argumentasinya adalah rasa sayang tetapi di balik alasan itu tersimpan ego manusia untuk menguasai “teman”nya.
Mengapa manusia mengontrol “teman”nya? Sebab istilah “teman” muncul setelah manusia membayar dan akan membayar dengan sejumlah uang yang besar. Karena mahal, manusia merasa wajar memiliki hak untuk mengatur semua sikap dan perilaku “teman”nya.
            Dengan demikian, “pertemanan” manusia hewan saat ini berhubungan dengan kepemilikan uang. Maka, muncullah unsur suka tidak suka manusia. Karena suka tidak suka maka tidak semua hewan mampunyai peluang bersahabat dengan manusia. Hewan yang “berkelas” menurut manusialah yang layak mendampingnya.
Situasi ini bukanlah manifestasi persahabatan melainkan “perbudakan”. Bila perbudakan maka tidak ada kesetaraan yang ada adalah hubungan tuan-hamba. Dalam hubungan seperti ini sang hamba harus mampu memuaskan ego sang tuan sebaliknya sang tuan berupaya mendandani “mainan”nya agar kelihatan cerdas dan berkelas sehingga pantas dipamerkan kepada orang lain. Maksudnya sederhana, sang tuan mengharapkan orang lain memuji dirinya sebagai penyayang binatang. Dalam konteks dunia modern mereka yang menggolongkan diri pencinta binatang memiliki prestise sendiri.  Singkatnya, hewan peliharaan merupakan salah satu sarana sang tuan menjual namanya kepada dunia. Hewan peliharaan bukanlah sahabat melainkan alat mendapatkan popularitas dan menunjukkan status sosial sang tuan. Semakin mahal semakin tinggi status sosial sang tuan.
            Pertanyaan lanjutannya adalah mengapa manusia “mencipta” hewan dan hubungan dengan hewan peliharaan yang berharga mahal semacam itu? Di manakah sesamanya sehingga manusia rela mencipta “sahabat” semahal itu? Tidak bisa lagi dipercayakah manusia lain sehingga manusia menciptakan persahabatan “artifisial” yang berharga mahal bagi dirinya sendiri?
            Fenomena ini menarik. Kemoderanan semakin menciptakan jurang bagi hubungan personal manusia. Kelas rendah, menengah dan atas. Kelas sosial membentengi manusia keluar untuk bergaul dengan orang di luar kelasnya. Kelas sosial mengharuskan orang menyeleksi siapa yang layak dan pantas berada di sampingnya. Di luar kelasnya, mereka boleh dipermainkan. Akibatnya lingkup pergaulan manusia menjadi sempit dan terbatas. Efek lanjutan dari sempit dan terbatasnya relasi sosial adalah manusia mengalami kesepian. Dampak lanjutannya adalah manusia memilih cara yang baginya netral dari tanggapan negatif jika ia bergaul dengan mereka yang berasal dari luar kelasnya yakni menciptakan gaya hidup baru yakni bergaul dengan hewan.
            Sisi lain kehidupan modern adalah hampir semua interaksi bersifat fungsional dan bernilai uang. Saya menggauli anda hanya jika anda mampu menjalankan salah satu fungsi guna memuaskan ego saya terutama  berhubungan dengan fungsi finansial. Jika anda tidak mampu memenuhi  atau sudah menjalankan fungsi tersebut maka berakhir pula hubungan kita.
Maka jangan heran jika sebagian orang melihat peluang bisnis dalam situasi kesepian manusia terutama kelas atas dan pola hubungn fungsional ini. Kelompok kreatif ini menciptakan dan menyediakan mainan baru yang unik lagi mahal dari hal-hal biasa yang ada di belahan dunia lain. Kucing Persia, adalah peliharaan biasa di tempat asalnya namun kelompok kreatif ini menciptakannya menjadi objek mainan berharga mahal bagi kelas atas untuk mengatasi rasa sepi dan rasa takut keluar dari lingkup sempit pergaulan mereka.
Sinar matahari lembut mengenai kulit isteriku yang sedang hamil, aku tersenyum sendiri. Semoga keluargaku terutama anak-anakku menyadari hal ini. Biarlah persahabatan lintas kodrati itu berjalan alami sementara kami selalu peka dengan sesama di sekitar kami ketimbang terperosok dalam gaya hidup sempit dan kesepian yang menyedihkan itu lalu memperbudak hewan yang tak berdosa.

Selasa, 24 Mei 2011

Pendidikan Anak

            Saat aku melihat anak-anak kecil bermain berlarian aku melihat figur-figur hebat lima belas-dua puluh tahun ke depan. Di dalam diri mereka tersimpan potensi tidak terbatas yang menunggu jamahan dan polesan agar dapat bersinar. Namun sayang, dari begitu banyak kanak-kanak itu hanya segelintir yang mampu mencapai titik-titik tertinggi. Sebagian besar dari mereka akan menjadi kelompok yang dianggap masyarakat sampah dunia. Menyedihkan sekali.
Pertanyaannya, siapa yang bertanggung jawab atas hebat tidaknya manusia kecil namun besar ini? Kita, generasi di atas mereka. Kita yang sekarang memiliki kedudukannya masing-masing. Orang tua, orang dewasa dengan jabatannya, pemerintah dan semua lembaga swasta. Kitalah yang bertanggung jawab atas baik buruknya masa depan mereka. Filosofi Pilatus, cuci tangan atas apa yang terjadi harus dibuang. Tidak ada orang yang bebas dari kesalahan bila seorang anak mandeg sukses. Tidak ada orang yang tidak berjasa jika seorang anak dapat memecah kebuntuan hidupnya dengan berdiri tegak di depan. Kita semua bertanggung jawab atas kehebatan dan kedegradasian hidup orang-orang muda. Bila demikian, wawasan kita akan tanggung jawab masa depan haruslah diperluas tidak hanya terfokus pada keluaga sendiri tetapi juga seluruh anak-anak. Berhentilah memilah ini itu. Berhentilah memfragmentasi manusia dalam kelompok-kelompok. Dia kelompokku, kelompok kita, kelompok kami, kelompokmu, kelompok dia, kelompok mereka. Kita harus bergandeng tangan membangun dunia baru.
Namun kadang aku juga berpikir, hal semacam ini adalah pemikiran utopis. Pemikiran tentang surga di dunia yang tidak akan pernah terjadi walaupun kita terus mengusahakannya. Tetapi usaha untuk mencapainya tidak boleh berhenti. Di kemudian hari anak-anak itu akan bertumbuh dan menjalankan peran mereka masing-masing. Dari kelompok yang mendapat pendidikan bagus dan mereka yang tidak beruntung akan berperan sebagai pandawa dan kurawa kehidupan. Ini salah satu kepastian yang aku dapatkan dalam kehidupan. Mereka akan berperang dalam arena kehidupan. Lingkungan akan menjadi kacau balau oleh intrik dan pertarungan mereka. Apakah intrik dan pertarungan itu harus dihentikan? Apakah pandawa akan selalu menang? Apakah kurawa dapat dan harus dimusnahkan? Yang pasti entitas pandawa dan kurawa akan selalu ada sejalan dengan keberadaan dan peradaban manusia. Intrik dan pertarungan tidak akan pernah berhenti. Namun bergunakah intrik dan pertarungan itu?
Aku harus menjawab dengan tegas, ya sangat berguna untuk dunia secara keseluruhan. Lihatlah dunia yang sekarang kita hidupi ini adalah dunia hasil intrik dan pertarungan pandawa-kurawa. Meminjam istilah Hegel; tesis, antithesis dan sintesis. Pandawa memainkan tesis kebenarannya, kurawa memainkan antitesis perlawanan atas kebenaran tesis pandawa dan menghasilkan sintesis kehidupan yang sedang kita nikmati ini. Proses ini adalah proses siklus yang tiada henti. Jadi pertanyaan tentang haruskah dan dapatkah kita menghanguskan kurawa, jawabannya jelas. Kita harus melawan kurawa untuk mendapatkan sintesis dan kita tidak dapat menghentikan kurawa sebab sejak awal kurawa adalah hakekat kemanusiaan kita. Tanpa kurawa kita tidak akan sampai pada titik sekarang ini. Semakin kuat pandawa semakin kuat pula kurawa. Proses ini berulang hingga tidak akan pernah berhenti. 
Tugas kita sekarang adalah berusaha bersama-sama menciptakan calon-calon pandawa sebanyak mungkin. Cukuplah sudah kita saksikan para kurawa sekarang merajai negara bangsa kita. Mereka adalah produk pendidikan zamannya yang lebih bertumpu pada kemampuan nalar tanpa memperhitungkan sisi emosional dan spirit manusia. Saatnya kini kita menciptakan para pandawa yang kuat dari sisi nalar, emosi, spiritual maupun sosial. 
Saat saya berpaling lagi pada anak-anak yang sedang bermain tersebut seulas senyum harapan sekaligus beban tanggung jawab yang harus saya pikul. Tapi saya tidak akan lari dari tanggung jawab tersebut. Bagaimana dengan anda?

ampun ma

Rabu, 18 Mei 2011

CERITA

Dendam


Seorang janda menangis histeris mengetahui anak gadisnya tewas dibunuh setelah sebelumnya diperkosa oleh sang pelaku. Kejadian itu menderitakan sang ibu sehingga ia berhenti menjadi dirinya sendiri. Ibu tersebut berubah.
Sebulan kemudian pihak kepolisian berhasil menangkap pelaku pemerkosaan dan pembunuhan. Lalu tibalah waktunya olah TKP yang akan dilakukan pelaku di tempat kejadian. Masyarakat mengerumuni proses tersebut termasuk sang ibu. Banyak hujatan dan cacian diberikan kepada sang pelaku. Beberapa orang berupaya memukul dan melempar pelaku. Sementara sang ibu histeris menyaksikan reka ulang yang dilakukan pelaku. “Bunuh bangsat biadab itu. Bunuh dia! Dia telah mengambil anakku, dia pun harus mati,” kata sang ibu dengan teriakan histeris dan rontakan ingin melepaskan diri dari rengkuhan sang ayah.  
Lelaki tua yang memeluk putrinya itu berbisik kepada sang anak, “Mari kita bunuh bangsat itu lalu kita hidupkan kembali gadis kecil kita.” Mendengar perkataan itu, sang janda berhenti menangis dan menjadi tenang. 

Selasa, 17 Mei 2011

Puisi

OH… JEPANG

Aku saksikan di TV, air laut menggulung dirinya seperti rol kukus yang dibuat ibu
Bila rol kukus berakhir menjadi lingkaran panjang mengundang selera, air pasang dengan kekuatanya malah merengut apa saja yang ia temui di darat. Tak ada yang mampu menghalanginya. Apa pun tidak. Sebaliknya, ia memicu sang jago merah tuk mengamuk. Berdua, mereka memporakporandakan tatanan yang sudah dibuat.  Pendewaan manusia akan ciptaannya, berakhir. Dewa hasil ciptaan manusia pun tak berkutik oleh sekali sapuan sang bah. Oleh jilatan sang jago merah.

Aku mendengar lagi ribuan orang tersapu, lenyap entah ke mana. Aku tidak mampu menangkap raga manusia di bah itu. Yang mampu aku tangkap hanyalah mobil, potongan kayu, rumah dan gedung yang mengapung laksana mainan anak-anak. Kilang minyak raksasa luluh tak berkekuatan. Lenyap.

Akh… betapa murah dan tak berharganya manusia di hadapanmu, tsunami.
Ingin aku menangis atas ketiadaartian diri kami di hadapanmu.
Mengutukimu sebagai malaikat pencabut nyawa yang tak berbelas kasih. Namun ada suara yang mengatakan engkau tak bertujuan membunuh sekedar menjalankan tugas yang kau emban.
Tetapi bukankah tugasmu tidak harus membunuh?
Apakah engkau tidak mengenal moralitas?
Apakah moralitas hanya diperuntukan bagi kami?
Ataukah engkau sedang mengajari kami sebentuk moralitas baru yang belum kami kenal dengan kedasyatanmu ini?
Ya mungkin ini yang benar.

Engkau mengingatkan kami untuk sekali waktu memikirkan orang lain di sekitar kami. Menangis atas apa yang sedang mereka hadapi. Mengulurkan tangan bagi mereka. Membuka hati tuk menyentuh mereka.
Engkau datang dengan wajah serammu tuk menyentuh kedalaman kami yang hingga kini tidak kami kenali. Engkau datang dengan keangkeranmu tuk menyadarkan kami meredefinisi pemahaman kami atas pendewaan diri dan ciptaan kami.

Dan ketika, kesadaran ini datang aku menangis. Menangis bukan karena saudara-daudariku tewas di tanganmu secara kejam tetapi karena kekejamanku terhadap sesamaku selama ini dengan bentuk yang sangat halus tetapi lebih kejam dari yang sudah engkau lakukan di Jepang. 

PENJAGA  JALAN
Kemarin saat aku berangkat kerja, waktu itu masih subuh jalanan belum lagi ramai yang aku temui hanyalah para pedagang yang dikejar waktu agar cepat sampai di pasar atau anak sekolahan yang mungkin mendapatkan tugas rutin membersihkan kelas; merekalah yang aku temui di bibir jalan. Saat itu aku sudah melihat engkau berdiri gagah dengan seragam biru langit yang agak lusuh di samping jalan. Kalian bugar.
Ketika aku kembali dari rutinitas luar rumah, matahari sudah jatuh yang tersisa hanyalah bayangan yang menerangi padang kecil tempat engkau berjaga dan aku masih bertemu engkau di antara dempetan mikrolet dan sepeda motor. Para sopir dan ojek sedang mengejar penumpang terakhir. Penumpang sedang memilih kendaraan yang aman mengantar, bisa menghibur dengan musik atau yang kelihatan gagah jika dilihat; pelepas kepenantan hari yang menyiksa. Kalian tersisip dalam keramaian di akhir hari seperti pembatas buku, kalian sedang mengatur mereka.
Suatu ketika aku pulang lebih awal saat terik sedang berada di puncak kekuasaannya, ada keperluan penting di rumah. Aku masih bertemu denganmu. Duduk di sebuah kursi kayu tua di pinggir jalan meniup lifrik dengan sorot mata tajam mengarahkan sopir yang ingin nakal; mereka patuh padamu. Terlihat wajahmu menghitam namun engkau masih tersenyum saat seorang lelaki bercelana pendek menyapamu. Kalian berbincang sebentar, lalu berlalu.
Siapakah engkau? Aku tidak menganalmu. Namun aku tahu negara ini menggajimu sebab engkau berseragam sebuah instansi pemerintah. Cukupkah pemberian negara untuk biaya hidupmu bersama isteri anakmu sehingga hadirmu sejak subuh hingga senja berganti malam?
Siapakah engkau? Aku tidak mengenalmu. Tapi aku tahu di tanah berukuran ringkas namun lebih luas dari ruangan direktur atau presiden sekalipun di sanalah kantormu. Atap kantormu adalah langit, lantainya terbuat dari aspal dan tanah berbatu, jendelanya adalah sela-sela pepohonan, pintunya tanpa kunci dan pendingin ruanganmu adalah angin sendiri. Engkau bekerja di sana. Gerakmu menghentak rasa hormatku. Aku lebih menghormatimu dari pada para tikus berdasi, meminjam istilah Iwan Fals, di kantoran yang rajin berkorupsi.
Siapakah engkau? Aku tidak mengenalmu. Tetapi engkau adalah pahlawan.



PERTEMUAN

Bertemu engkau pertama kali, jejalanan telah sepi oleh hilir mudik kesibukan hari. Waktu telah larut saat aku bertemu engkau di sisi jalan. Hampir sepuluh tahun aku lewati jejalanan yang sama namun baru kali itu aku menangkap hadirmu. Di manakah dirimu selama ini ataukah aku yang hilang dalam cengkraman kemisteriusan jalanan?

Engkau menggoda dan membiusku dengan aromamu; memaksaku untuk mencarimu, memastikan aku mengenalmu dan berjanji memboyongmu kala rumah telah tersedia.

Pertemuan awal kita membuatku ingin selalu bertemu engkau jika melewati jejalanan yang sama. Aku ingin menikmati aroma tubuhmu walau hanya sepintas. Engkau tahu aku tidak akan pernah mengapelimu lebih dari tigapuluh detik; maaf untuk ini. Tapi aku meminta jatah aromamu. Mungkinkah engkau memberi kepada semua orang? Aku menjadi cemburu sebab aku tahu hal terbaik dari dirimu ini pastilah kau serahkan kepada siapa saja walau mereka tidak memintanya. Namun cemburuku terkikis habis kala kutahu engkau memberi hanya pada September tengah malam saat purnama sedang berbincang.

Oktober telah datang dan seperti biasa aku masih melewati tempatmu namun tidak lagi jejakmu kutemukan. Engkau telah pergi. Sedih aku. Mungkinkah musim depan kita akan bersua lagi? Mungkinkah purnama september kala itu aku masih berarak di jalanan yang sama? Mungkinkah engkaupun masih mau ada di titikmu kini?
                                                                                                      


PENANTIAN

aku tak sabar menanti waktu itu akan tiba tuk memecah semua alur darah dan hasrat yang tertahan sekian lama
semakin mendekat, raga ini makin melepuh, jiwa kian tak karuan, hati menari senang bercampur rasa yang belum dikenal
dentang detik lama bergetar tuk satu ketukan, kapan segera datang?
tidur tak lagi tenang walau sudah kujanji ketika tiba saatnya aku harus terlihat, wah…
yang kudapati, empuknya pembaringan tak mampu merayu pun memaksa mata terpejam
saat itu begitu berarti, sebab dunia akan berubah sebaliknya dalam pandanganku dan aku ingin segera merasakannya lalu terus memulai hal baru, tidak berpikir lagi mengejar waktu yang terbang terbawa ingatan yang tak berpohon
aku akan segera menuju pembaringan sebab hari sudah lewat namun aku tahu,  hampir pasti mata tidak mau bersahabat, mereka telah berkonspirasi dengan hasrat untuk tetap berjaga hingga waktu itu tiba.
                                                                                             



ENGKAU TELAH PERGI

aku memelukmu dengan irama kehangatan namun tidak menghilangkan kebekuan tubuhmu
lalu kubelai engkau dengan elusan kelembutan dan tubuhmu masih tetap dingin
lalu aku mulai gelisah, “Mengapa engkau begini?” engkau tak menjawabku. Nafasmu tak terdengar
kulepas pelukanku, menatap wajahmu dan yang kutemui wajahmu telah membiru matamu terpejam erat.
Baru kusadari, engkau telah pergi.
                                                                           



THE WAVES OF KILKEE

Senandung ini membuat hatiku trenyuh,
mungkinkah mewakili kesedihan sang pengubah?
ataukah kekagumannya pada ombak yang menggulung menyentuh bibir pantai?
mungkinkah ia sedang menatap gelombang sambil memutar kembali memori indah? ataukah yang datang adalah tikaman kenangan yang membuat luka kembali berdarah?
aku tak tahu, tetapi aku dapat merasakan senandung ini memberi tanda bahwa aku rapuh dan dapat disentuh oleh sebuah kidung tanpa bait.
                                                                                   



KONTRADIKSI

Angin badai lagi hujan disertai halilintar dan guntur berkecamuk di luar sana
namun tabir persengketaan di dalam sini tersibak helai demi helai
lalu setenang danau yang baru saja melepaskan murka walau di luar sana baru sampai di anti klimaks pertama.
                                                                    


MAAFKAN AKU

Maafkan aku, selama ini membiarkan air mengalir ke mana saja tanpa peduli membuat saluran dan tujuan. Sangkaku ini yang terbaik membiarkan ia mencari cara dan tujuannya sendiri. Engkau memukul aku dengan tangisanmu di suatu petang dengan mengatakan “Ketidakmampuanku memutuskan,”  Aku malu waktu itu. Bukan aku tidak memutuskan. Aku putuskan untuk tidak memutuskan agar semua senang namun ternyata semua sakit dan kita menderita. Engkau mengajari aku memutuskan memilih satu, tidak semua walau itu membuat kita dilukai dan menderita. Terima kasih.

Engkau kembali mencambukiku dengan tangisanmu di suatu petang kala semua saluran aku tutup. Tidak kusadari bahwa saluran-saluran tersebut memang aku tutup. Katamu, “Kita tidak pernah ada waktu untuk berbicara.” Engkau mau berbicara denganku apapun itu. Sesepele pun soal itu. Sedangkan aku belajar untuk tidak membebani orang lain dengan cerita-cerita yang tidak penting. Mereka sudah punya soal mengapa aku harus menambah soal dengan cerita-ceritaku? Maafkan aku, aku keliru. Aku telah menyia-nyiakan dirimu. Engkau mengingatkan aku, kini aku tidak lagi sendirian.

Terima kasih. Engkau telah mengajari aku tentang hidup dengan tangisanmu. Selalu dan selalu ingatkan aku tentang ketidakmatanganku namun jangan lagi dengan tangisanmu. Aku tak sanggup melihatmu menangis.