Selasa, 24 Mei 2011

Pendidikan Anak

            Saat aku melihat anak-anak kecil bermain berlarian aku melihat figur-figur hebat lima belas-dua puluh tahun ke depan. Di dalam diri mereka tersimpan potensi tidak terbatas yang menunggu jamahan dan polesan agar dapat bersinar. Namun sayang, dari begitu banyak kanak-kanak itu hanya segelintir yang mampu mencapai titik-titik tertinggi. Sebagian besar dari mereka akan menjadi kelompok yang dianggap masyarakat sampah dunia. Menyedihkan sekali.
Pertanyaannya, siapa yang bertanggung jawab atas hebat tidaknya manusia kecil namun besar ini? Kita, generasi di atas mereka. Kita yang sekarang memiliki kedudukannya masing-masing. Orang tua, orang dewasa dengan jabatannya, pemerintah dan semua lembaga swasta. Kitalah yang bertanggung jawab atas baik buruknya masa depan mereka. Filosofi Pilatus, cuci tangan atas apa yang terjadi harus dibuang. Tidak ada orang yang bebas dari kesalahan bila seorang anak mandeg sukses. Tidak ada orang yang tidak berjasa jika seorang anak dapat memecah kebuntuan hidupnya dengan berdiri tegak di depan. Kita semua bertanggung jawab atas kehebatan dan kedegradasian hidup orang-orang muda. Bila demikian, wawasan kita akan tanggung jawab masa depan haruslah diperluas tidak hanya terfokus pada keluaga sendiri tetapi juga seluruh anak-anak. Berhentilah memilah ini itu. Berhentilah memfragmentasi manusia dalam kelompok-kelompok. Dia kelompokku, kelompok kita, kelompok kami, kelompokmu, kelompok dia, kelompok mereka. Kita harus bergandeng tangan membangun dunia baru.
Namun kadang aku juga berpikir, hal semacam ini adalah pemikiran utopis. Pemikiran tentang surga di dunia yang tidak akan pernah terjadi walaupun kita terus mengusahakannya. Tetapi usaha untuk mencapainya tidak boleh berhenti. Di kemudian hari anak-anak itu akan bertumbuh dan menjalankan peran mereka masing-masing. Dari kelompok yang mendapat pendidikan bagus dan mereka yang tidak beruntung akan berperan sebagai pandawa dan kurawa kehidupan. Ini salah satu kepastian yang aku dapatkan dalam kehidupan. Mereka akan berperang dalam arena kehidupan. Lingkungan akan menjadi kacau balau oleh intrik dan pertarungan mereka. Apakah intrik dan pertarungan itu harus dihentikan? Apakah pandawa akan selalu menang? Apakah kurawa dapat dan harus dimusnahkan? Yang pasti entitas pandawa dan kurawa akan selalu ada sejalan dengan keberadaan dan peradaban manusia. Intrik dan pertarungan tidak akan pernah berhenti. Namun bergunakah intrik dan pertarungan itu?
Aku harus menjawab dengan tegas, ya sangat berguna untuk dunia secara keseluruhan. Lihatlah dunia yang sekarang kita hidupi ini adalah dunia hasil intrik dan pertarungan pandawa-kurawa. Meminjam istilah Hegel; tesis, antithesis dan sintesis. Pandawa memainkan tesis kebenarannya, kurawa memainkan antitesis perlawanan atas kebenaran tesis pandawa dan menghasilkan sintesis kehidupan yang sedang kita nikmati ini. Proses ini adalah proses siklus yang tiada henti. Jadi pertanyaan tentang haruskah dan dapatkah kita menghanguskan kurawa, jawabannya jelas. Kita harus melawan kurawa untuk mendapatkan sintesis dan kita tidak dapat menghentikan kurawa sebab sejak awal kurawa adalah hakekat kemanusiaan kita. Tanpa kurawa kita tidak akan sampai pada titik sekarang ini. Semakin kuat pandawa semakin kuat pula kurawa. Proses ini berulang hingga tidak akan pernah berhenti. 
Tugas kita sekarang adalah berusaha bersama-sama menciptakan calon-calon pandawa sebanyak mungkin. Cukuplah sudah kita saksikan para kurawa sekarang merajai negara bangsa kita. Mereka adalah produk pendidikan zamannya yang lebih bertumpu pada kemampuan nalar tanpa memperhitungkan sisi emosional dan spirit manusia. Saatnya kini kita menciptakan para pandawa yang kuat dari sisi nalar, emosi, spiritual maupun sosial. 
Saat saya berpaling lagi pada anak-anak yang sedang bermain tersebut seulas senyum harapan sekaligus beban tanggung jawab yang harus saya pikul. Tapi saya tidak akan lari dari tanggung jawab tersebut. Bagaimana dengan anda?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar