Saat jalan pagi tadi bersama isteri, kami berpapasan dengan seorang anak yang juga jalan pagi bersama anjing peliharaannya yang besar, gagah dan berbulu lebat terawat. Dari tampilannya, anjing itu dipastikan bukan anjing lokal. Dari penampilan sang anak, saya juga dapat memastikan anak tersebut bukan dari keluarga rata-rata; keluarga berada. Sang bocah sangat akrab dengan hewan peliharaannya.
Lalu tiba-tiba pikiran saya mengembara dan terperangkap dalam sebuah bayangan realitas yang makin menjamur di masyarakat. Persahabatan antara manusia dengan hewan. Persahabatan manusia dengan hewan bukan lagu baru, sudah sejak dahulu manusia menjalin hubungan “mesra” dengan sesama makhluk “berotak” ini. Sampai-sampai banyak dongeng anak yang tercipta untuk menggambarkan “kemesraan” lintas kodrat ini.
Tidak ada yang salah dengan persahabatan manusia hewan. Refleksi positif dari model persahabatan macam ini adalah manusia tidak mengangkat dirinya lebih tinggi dari makhluk lain di dunia. Persahabatan ini menggambarkan manusia menetapkan dirinya setara dengan hewan. Pemikiran akan kesetaraan ini membuat manusia tidak bertindak arogan terhadap kehidupan lain di luar dirinya. Kehidupan lain terlestarikan akibat pola pikir ini sebab manusia menjaganya.
Namun cerita persahabatan manusia hewan dulu dan sekarang berbeda. Dahulu, pertemuan manusia dengan hewan berjalan alami. Persahabatan tumbuh dalam pertemuan di lingkungan alami. Tidak ada paksaan. Dengan pola semacam ini, hampir semua hewan dipastikan memiliki peluang bersahabat dengan manusia. Demikian juga manusia, siapa saja tiba-tiba tanpa disadari sudah masuk dalam hubungan “mesra” tanpa diketahui bagaimana dan kapan hal itu terbangun. Dalam hubungan semacam ini, manusia tidak memiliki pemikiran muluk-muluk tentang hubungan mereka tetapi yang jelas mereka berdua sangat intens dalam suasana kebebasan dan saling menghormati. Semua berjalan apa adanya, wajar. Hal inilah yang menjadikan persahabatan mereka abadi. Banyak kisah yang membuktikan hal ini. Contoh, kisah fenomenal anjing Hichiko di Jepang.
Berbeda dengan apa yang kelihatan sekarang. Persahabatan yang terbangun berjalan artifisial di lingkungan sempit manusia. Manusia secara aktif mencari “teman” yang layak mendampinginya di kamar tidur, ruang makan dan yang paling luas di taman-taman. Walau berteman, manusia lebih mendominasi hubungan tersebut. Manusia yang menciptakan aturan. Lihat saja, hewan-hewan peliharaan yang dianggap sahabat oleh sang pemilik selalu diberi tali, diberi pakaian dan lain sebagainnya. Argumentasinya adalah rasa sayang tetapi di balik alasan itu tersimpan ego manusia untuk menguasai “teman”nya.
Mengapa manusia mengontrol “teman”nya? Sebab istilah “teman” muncul setelah manusia membayar dan akan membayar dengan sejumlah uang yang besar. Karena mahal, manusia merasa wajar memiliki hak untuk mengatur semua sikap dan perilaku “teman”nya.
Dengan demikian, “pertemanan” manusia hewan saat ini berhubungan dengan kepemilikan uang. Maka, muncullah unsur suka tidak suka manusia. Karena suka tidak suka maka tidak semua hewan mampunyai peluang bersahabat dengan manusia. Hewan yang “berkelas” menurut manusialah yang layak mendampingnya.
Situasi ini bukanlah manifestasi persahabatan melainkan “perbudakan”. Bila perbudakan maka tidak ada kesetaraan yang ada adalah hubungan tuan-hamba. Dalam hubungan seperti ini sang hamba harus mampu memuaskan ego sang tuan sebaliknya sang tuan berupaya mendandani “mainan”nya agar kelihatan cerdas dan berkelas sehingga pantas dipamerkan kepada orang lain. Maksudnya sederhana, sang tuan mengharapkan orang lain memuji dirinya sebagai penyayang binatang. Dalam konteks dunia modern mereka yang menggolongkan diri pencinta binatang memiliki prestise sendiri. Singkatnya, hewan peliharaan merupakan salah satu sarana sang tuan menjual namanya kepada dunia. Hewan peliharaan bukanlah sahabat melainkan alat mendapatkan popularitas dan menunjukkan status sosial sang tuan. Semakin mahal semakin tinggi status sosial sang tuan.
Pertanyaan lanjutannya adalah mengapa manusia “mencipta” hewan dan hubungan dengan hewan peliharaan yang berharga mahal semacam itu? Di manakah sesamanya sehingga manusia rela mencipta “sahabat” semahal itu? Tidak bisa lagi dipercayakah manusia lain sehingga manusia menciptakan persahabatan “artifisial” yang berharga mahal bagi dirinya sendiri?
Fenomena ini menarik. Kemoderanan semakin menciptakan jurang bagi hubungan personal manusia. Kelas rendah, menengah dan atas. Kelas sosial membentengi manusia keluar untuk bergaul dengan orang di luar kelasnya. Kelas sosial mengharuskan orang menyeleksi siapa yang layak dan pantas berada di sampingnya. Di luar kelasnya, mereka boleh dipermainkan. Akibatnya lingkup pergaulan manusia menjadi sempit dan terbatas. Efek lanjutan dari sempit dan terbatasnya relasi sosial adalah manusia mengalami kesepian. Dampak lanjutannya adalah manusia memilih cara yang baginya netral dari tanggapan negatif jika ia bergaul dengan mereka yang berasal dari luar kelasnya yakni menciptakan gaya hidup baru yakni bergaul dengan hewan.
Sisi lain kehidupan modern adalah hampir semua interaksi bersifat fungsional dan bernilai uang. Saya menggauli anda hanya jika anda mampu menjalankan salah satu fungsi guna memuaskan ego saya terutama berhubungan dengan fungsi finansial. Jika anda tidak mampu memenuhi atau sudah menjalankan fungsi tersebut maka berakhir pula hubungan kita.
Maka jangan heran jika sebagian orang melihat peluang bisnis dalam situasi kesepian manusia terutama kelas atas dan pola hubungn fungsional ini. Kelompok kreatif ini menciptakan dan menyediakan mainan baru yang unik lagi mahal dari hal-hal biasa yang ada di belahan dunia lain. Kucing Persia, adalah peliharaan biasa di tempat asalnya namun kelompok kreatif ini menciptakannya menjadi objek mainan berharga mahal bagi kelas atas untuk mengatasi rasa sepi dan rasa takut keluar dari lingkup sempit pergaulan mereka.
Sinar matahari lembut mengenai kulit isteriku yang sedang hamil, aku tersenyum sendiri. Semoga keluargaku terutama anak-anakku menyadari hal ini. Biarlah persahabatan lintas kodrati itu berjalan alami sementara kami selalu peka dengan sesama di sekitar kami ketimbang terperosok dalam gaya hidup sempit dan kesepian yang menyedihkan itu lalu memperbudak hewan yang tak berdosa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar