OH… JEPANG
Aku saksikan di TV, air laut menggulung dirinya seperti rol kukus yang dibuat ibu
Bila rol kukus berakhir menjadi lingkaran panjang mengundang selera, air pasang dengan kekuatanya malah merengut apa saja yang ia temui di darat. Tak ada yang mampu menghalanginya. Apa pun tidak. Sebaliknya, ia memicu sang jago merah tuk mengamuk. Berdua, mereka memporakporandakan tatanan yang sudah dibuat. Pendewaan manusia akan ciptaannya, berakhir. Dewa hasil ciptaan manusia pun tak berkutik oleh sekali sapuan sang bah. Oleh jilatan sang jago merah.
Aku mendengar lagi ribuan orang tersapu, lenyap entah ke mana. Aku tidak mampu menangkap raga manusia di bah itu. Yang mampu aku tangkap hanyalah mobil, potongan kayu, rumah dan gedung yang mengapung laksana mainan anak-anak. Kilang minyak raksasa luluh tak berkekuatan. Lenyap.
Akh… betapa murah dan tak berharganya manusia di hadapanmu, tsunami.
Ingin aku menangis atas ketiadaartian diri kami di hadapanmu.
Mengutukimu sebagai malaikat pencabut nyawa yang tak berbelas kasih. Namun ada suara yang mengatakan engkau tak bertujuan membunuh sekedar menjalankan tugas yang kau emban.
Tetapi bukankah tugasmu tidak harus membunuh?
Apakah engkau tidak mengenal moralitas?
Apakah moralitas hanya diperuntukan bagi kami?
Ataukah engkau sedang mengajari kami sebentuk moralitas baru yang belum kami kenal dengan kedasyatanmu ini?
Ya mungkin ini yang benar.
Engkau mengingatkan kami untuk sekali waktu memikirkan orang lain di sekitar kami. Menangis atas apa yang sedang mereka hadapi. Mengulurkan tangan bagi mereka. Membuka hati tuk menyentuh mereka.
Engkau datang dengan wajah serammu tuk menyentuh kedalaman kami yang hingga kini tidak kami kenali. Engkau datang dengan keangkeranmu tuk menyadarkan kami meredefinisi pemahaman kami atas pendewaan diri dan ciptaan kami.
Dan ketika, kesadaran ini datang aku menangis. Menangis bukan karena saudara-daudariku tewas di tanganmu secara kejam tetapi karena kekejamanku terhadap sesamaku selama ini dengan bentuk yang sangat halus tetapi lebih kejam dari yang sudah engkau lakukan di Jepang.
PENJAGA JALAN
Kemarin saat aku berangkat kerja, waktu itu masih subuh jalanan belum lagi ramai yang aku temui hanyalah para pedagang yang dikejar waktu agar cepat sampai di pasar atau anak sekolahan yang mungkin mendapatkan tugas rutin membersihkan kelas; merekalah yang aku temui di bibir jalan. Saat itu aku sudah melihat engkau berdiri gagah dengan seragam biru langit yang agak lusuh di samping jalan. Kalian bugar.
Ketika aku kembali dari rutinitas luar rumah, matahari sudah jatuh yang tersisa hanyalah bayangan yang menerangi padang kecil tempat engkau berjaga dan aku masih bertemu engkau di antara dempetan mikrolet dan sepeda motor. Para sopir dan ojek sedang mengejar penumpang terakhir. Penumpang sedang memilih kendaraan yang aman mengantar, bisa menghibur dengan musik atau yang kelihatan gagah jika dilihat; pelepas kepenantan hari yang menyiksa. Kalian tersisip dalam keramaian di akhir hari seperti pembatas buku, kalian sedang mengatur mereka.
Suatu ketika aku pulang lebih awal saat terik sedang berada di puncak kekuasaannya, ada keperluan penting di rumah. Aku masih bertemu denganmu. Duduk di sebuah kursi kayu tua di pinggir jalan meniup lifrik dengan sorot mata tajam mengarahkan sopir yang ingin nakal; mereka patuh padamu. Terlihat wajahmu menghitam namun engkau masih tersenyum saat seorang lelaki bercelana pendek menyapamu. Kalian berbincang sebentar, lalu berlalu.
Siapakah engkau? Aku tidak menganalmu. Namun aku tahu negara ini menggajimu sebab engkau berseragam sebuah instansi pemerintah. Cukupkah pemberian negara untuk biaya hidupmu bersama isteri anakmu sehingga hadirmu sejak subuh hingga senja berganti malam?
Siapakah engkau? Aku tidak mengenalmu. Tapi aku tahu di tanah berukuran ringkas namun lebih luas dari ruangan direktur atau presiden sekalipun di sanalah kantormu. Atap kantormu adalah langit, lantainya terbuat dari aspal dan tanah berbatu, jendelanya adalah sela-sela pepohonan, pintunya tanpa kunci dan pendingin ruanganmu adalah angin sendiri. Engkau bekerja di sana. Gerakmu menghentak rasa hormatku. Aku lebih menghormatimu dari pada para tikus berdasi, meminjam istilah Iwan Fals, di kantoran yang rajin berkorupsi.
Siapakah engkau? Aku tidak mengenalmu. Tetapi engkau adalah pahlawan.
PERTEMUAN
Bertemu engkau pertama kali, jejalanan telah sepi oleh hilir mudik kesibukan hari. Waktu telah larut saat aku bertemu engkau di sisi jalan. Hampir sepuluh tahun aku lewati jejalanan yang sama namun baru kali itu aku menangkap hadirmu. Di manakah dirimu selama ini ataukah aku yang hilang dalam cengkraman kemisteriusan jalanan?
Engkau menggoda dan membiusku dengan aromamu; memaksaku untuk mencarimu, memastikan aku mengenalmu dan berjanji memboyongmu kala rumah telah tersedia.
Pertemuan awal kita membuatku ingin selalu bertemu engkau jika melewati jejalanan yang sama. Aku ingin menikmati aroma tubuhmu walau hanya sepintas. Engkau tahu aku tidak akan pernah mengapelimu lebih dari tigapuluh detik; maaf untuk ini. Tapi aku meminta jatah aromamu. Mungkinkah engkau memberi kepada semua orang? Aku menjadi cemburu sebab aku tahu hal terbaik dari dirimu ini pastilah kau serahkan kepada siapa saja walau mereka tidak memintanya. Namun cemburuku terkikis habis kala kutahu engkau memberi hanya pada September tengah malam saat purnama sedang berbincang.
Oktober telah datang dan seperti biasa aku masih melewati tempatmu namun tidak lagi jejakmu kutemukan. Engkau telah pergi. Sedih aku. Mungkinkah musim depan kita akan bersua lagi? Mungkinkah purnama september kala itu aku masih berarak di jalanan yang sama? Mungkinkah engkaupun masih mau ada di titikmu kini?
PENANTIAN
aku tak sabar menanti waktu itu akan tiba tuk memecah semua alur darah dan hasrat yang tertahan sekian lama
semakin mendekat, raga ini makin melepuh, jiwa kian tak karuan, hati menari senang bercampur rasa yang belum dikenal
dentang detik lama bergetar tuk satu ketukan, kapan segera datang?
tidur tak lagi tenang walau sudah kujanji ketika tiba saatnya aku harus terlihat, wah…
yang kudapati, empuknya pembaringan tak mampu merayu pun memaksa mata terpejam
saat itu begitu berarti, sebab dunia akan berubah sebaliknya dalam pandanganku dan aku ingin segera merasakannya lalu terus memulai hal baru, tidak berpikir lagi mengejar waktu yang terbang terbawa ingatan yang tak berpohon
aku akan segera menuju pembaringan sebab hari sudah lewat namun aku tahu, hampir pasti mata tidak mau bersahabat, mereka telah berkonspirasi dengan hasrat untuk tetap berjaga hingga waktu itu tiba.
ENGKAU TELAH PERGI
aku memelukmu dengan irama kehangatan namun tidak menghilangkan kebekuan tubuhmu
lalu kubelai engkau dengan elusan kelembutan dan tubuhmu masih tetap dingin
lalu aku mulai gelisah, “Mengapa engkau begini?” engkau tak menjawabku. Nafasmu tak terdengar
kulepas pelukanku, menatap wajahmu dan yang kutemui wajahmu telah membiru matamu terpejam erat.
Baru kusadari, engkau telah pergi.
THE WAVES OF KILKEE
Senandung ini membuat hatiku trenyuh,
mungkinkah mewakili kesedihan sang pengubah?
ataukah kekagumannya pada ombak yang menggulung menyentuh bibir pantai?
mungkinkah ia sedang menatap gelombang sambil memutar kembali memori indah? ataukah yang datang adalah tikaman kenangan yang membuat luka kembali berdarah?
aku tak tahu, tetapi aku dapat merasakan senandung ini memberi tanda bahwa aku rapuh dan dapat disentuh oleh sebuah kidung tanpa bait.
KONTRADIKSI
Angin badai lagi hujan disertai halilintar dan guntur berkecamuk di luar sana
namun tabir persengketaan di dalam sini tersibak helai demi helai
lalu setenang danau yang baru saja melepaskan murka walau di luar sana baru sampai di anti klimaks pertama.
MAAFKAN AKU
Maafkan aku, selama ini membiarkan air mengalir ke mana saja tanpa peduli membuat saluran dan tujuan. Sangkaku ini yang terbaik membiarkan ia mencari cara dan tujuannya sendiri. Engkau memukul aku dengan tangisanmu di suatu petang dengan mengatakan “Ketidakmampuanku memutuskan,” Aku malu waktu itu. Bukan aku tidak memutuskan. Aku putuskan untuk tidak memutuskan agar semua senang namun ternyata semua sakit dan kita menderita. Engkau mengajari aku memutuskan memilih satu, tidak semua walau itu membuat kita dilukai dan menderita. Terima kasih.
Engkau kembali mencambukiku dengan tangisanmu di suatu petang kala semua saluran aku tutup. Tidak kusadari bahwa saluran-saluran tersebut memang aku tutup. Katamu, “Kita tidak pernah ada waktu untuk berbicara.” Engkau mau berbicara denganku apapun itu. Sesepele pun soal itu. Sedangkan aku belajar untuk tidak membebani orang lain dengan cerita-cerita yang tidak penting. Mereka sudah punya soal mengapa aku harus menambah soal dengan cerita-ceritaku? Maafkan aku, aku keliru. Aku telah menyia-nyiakan dirimu. Engkau mengingatkan aku, kini aku tidak lagi sendirian.
Terima kasih. Engkau telah mengajari aku tentang hidup dengan tangisanmu. Selalu dan selalu ingatkan aku tentang ketidakmatanganku namun jangan lagi dengan tangisanmu. Aku tak sanggup melihatmu menangis.